To learn to read is to light a fire; every syllable that is spelled out is a spark - Victor Hugo

 

Komitmen kuat untuk memberi layanan terbaik dan terus meningkatkan kualitas.

 

Memotivasi Remaja "Underachiever"

PrintEmail
Septiana Runikasari

Adi adalah siswa salah satu sekolah unggulan di Jakarta yang mengikuti Penelusuran Minat dan Bakat di LPTUI. Selama ini prestasi Adi di sekolah hanya mendapat nilai maksimal 70, itu pun pada satu pelajaran saja yaitu komputer. Namun demikian, hasil tes menunjukkan bahwa Adi memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Orangtua Adi sangat heran dan akhirnya menghubungi LPTUI untuk meminta waktu konseling dengan Psikolog.

Saat menemui Psikolog, ayah Adi menjelaskan dengan berapi-api bahwa Adi yang saat ini baru naik kelas 3 SMP tidak pernah terlihat belajar di rumah. Sehari-hari Adi hanya membaca komik dan menonton TV sehingga ayah Adi menjadi sangat cerewet pada anak bungsunya ini. 
Kedua kakak Adi usianya terpaut cukup jauh dengan Adi. Yang satu sudah lulus sarjana dan yang satu lagi duduk di bangku kuliah di salah satu Fakultas Kedokteran sebuah universitas di Bandung. Ayah Adi ingin agar Adi juga memiliki prestasi seperti kakak-kakaknya. 

Sementara itu, ibu Adi merasa sudah tidak bisa terus menerus mendampingi Adi belajar karena sudah lelah. Adi sendiri merasa kalau di rumah ia memang sudah tidak ingin belajar karena sudah seharian belajar di sekolah mulai jam 7.15 sampai jam 15.00, dan masih dilanjutkan dengan les sehingga baru sampai di rumah pukul 8 malam. Sejak kelas 3 SMP, Adi sudah sangat jarang mengerjakan hobinya bermain bola karena sudah diarahkan untuk memusatkan perhatian pada Ujian Nasional di akhir tahun. 

Orang tua Adi sangat cemas melihat perilaku belajar anak bungsunya itu. Mereka berharap Adi rajin dan tekun belajar mengingat ia akan menghadapi Ujian Nasional.

Apa yang terjadi dengan Adi? Kecerdasan umumnya diatas rata-rata, tapi mengapa prestasi sekolahnya tidak sesuai? Kasus seperti Adi disebut Underachiever, yaitu orang-orang yang memilki potensi tinggi tetapi prestasi yang mereka tampilkan berada dibawah potensi yang dimiliki.

Ciri-Ciri Underachiever

Biasanya orang-orang seperti ini memiliki ciri-ciri perilaku sosial emosional sebagai berikut,

  • Memiliki self esteem yang rendah, kurang merasa berharga untuk tampil diantara teman-teman atau keluarganya
  • Memiliki konsep diri yang tidak realistis, kadang merasa sebagai anak yang gagal atau tidak berguna
  • Menghindari komunikasi, menghindari risiko, tidak berdaya (menunggu diajak orang lain)
  • Pasif, taat hanya sekedarnya saja
  • Agresif, memberontak
  • Menolak perintah atau instruksi dari tokoh otoritas (orangtua, guru dan lain-lain)
  • Menyalahkan orang lain kalau ada masalah
  • Kurang konstruktif dalam kelompok
  • Tidak punya tokoh identifikasi, tidak punya teman dekat
  • Kurang fleksibel, sering ‘mentok’, kreativitas rendah

Bagaimana perilaku mereka di sekolah?

  • Bersikap negatif terhadap sekolah
  • Berkata kalau ia bosan belajar
  • Tugas-tugasnya tidak selesai
  • Tidak pernah puas dengan hasil kerjanya (perfeksionis)
  • Mudah terganggu konsentrasinya
  • Mempunyai masalah disiplin - berkeliling kelas, terlambat, mengganggu kelas
  • Menyalahkan guru atau teman kalau ada masalah
  • Prestasi akademiknya rendah
  • Tidak punyai target, ambisinya kurang
  • Berteman dengan siswa lain yang juga tidak puas

Perilaku-perilaku demikian tampak pada Adi, di sekolah ia kurang berani tampil meskipun ia memiliki kemampuan. Ia menjadi cenderung menyendiri dan tidak mau bergaul. Saat hari libur ia memilih diam di rumah, membaca komik atau bermain playstation. Perilaku ini juga cerminan dari sikap pasif agresif sebagai penolakan terhadap perintah-perintah belajar yang diberikan ayahnya. Adi hanya akan beranjak dengan malas-malasan saat orang tua mengajaknya untuk mengikuti aktivitas di luar rumah. Saat ini ia tidak memiliki teman dekat walaupun orangtuanya sudah mendorong dan memberikan waktu untuk bermain atau bergabung dengan beberapa orang teman.

Penyebab Dari Rumah

Ada beberapa penyebab yang berasal dari rumah yang bisa membuat mereka menjadi seperti itu, antara lain:

  • Situasi keluarga tidak stabil, misalnya si anak tahu bahwa ayahnya selingkuh sehingga hubungan kedua orangtuanya sudah tidak harmonis
  • Si anak merasa harus berkompetisi dengan saudara
  • Si anak kurang mendapat kesempatan pengayaan sosial dan edukasional
  • Si anak terlalu tergantung pada ibu, misalnya ibulah yang selalu membantu dan mengambil keputusan untuknya
  • Ayah terlalu dominan, kurang menghargai anak, sering memberi hukuman berat
  • Orang tua tidak realistis dalam menetapkan target dan memaksakan nilai-nilai tertentu terhadap anak-anaknya, misalnya anak merasa sudah belajar seharian tetapi dianggap belum belajar kalau di rumah ia hanya membaca komik
  • Orang tua tidak pernah memberi penghargaan atas prestasi anak-anaknya sekecil apapun
  • Orang tua jarang berbagi ide, memberikan kepercayaan, menunjukkan kasih sayang dan mengambil kesepakatan dengan anak-anaknya
  • Orang tua terlalu memanjakan dan melindungi anak sehingga tidak menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri anak-anak itu sendiri
  • Orang tua jarang memberi contoh gaya hidup yang positif, sehat, teratur, dan prestastif

Penyebab Dari Luar Rumah

Beberapa penyebab yang berasal dari luar rumah atau dari lingkungan sekolah antara lain:

  • Anak bersekolah di sekolah yang sangat tinggi standarnya, membuat kepercayaan diri anak menjadi turun karena ia jarang memiliki pengalaman berhasil.
  • Perlakuan guru juga dapat menjadi salah satu penyebab anak menjadi underachiever. Ada guru-guru yang cenderung memiliki tuntutan tinggi, bertindak otoriter atau kurang memberi penghargaan bagi siswa. Ini dapat menjadi salah satu pemicu anak menjadi underachiever.
  • Salah pilih teman juga bisa menyebabkan seorang remaja menjadi underachiever. Pada usia remaja, teman menjadi segalanya bagi mereka, dan pada saat ini pula mereka sangat sulit menolak pengaruh dari teman. Daripada ditinggalkan teman, mereka merasa lebih baik mengalah dalam hal prestasi belajar.

Apa Yang Dapat Dilakukan Orangtua?

  • Ciptakan gaya hidup sehat dengan membangun keseimbangan antara kondisi fisik, mental, dan emosional. Misalnya dengan memberi nutrisi yang baik, berolahraga, serta belajar mengelola stres.
  • Cari bantuan konseling untuk anak dan seluruh keluarga jika perlu. Jika seluruh keluarga ikut terlibat konseling, diharapkan perubahan dapat lebih cepat terjadi karena adanya dukungan dari seluruh keluarga. Perubahan perilaku bukan hanya dari anak tetapi juga perubahan perlakuan anggota keluarga lain terhadap anak.
  • Cari guru pembimbing untuk membantu anak mengatasi kelemahan dalam pelajaran-pelajaran tertentu.
  • Komunikasikan harapan yang tinggi terhadap anak dengan rasa cinta, penuh pujian, kebanggaan dan respek.
  • Adakan pertemuan keluarga untuk menetapkan target jangka pendek dan jangka panjang, serta membuat aturan-aturannya, kemudian buatlah semacam “kontrak” (kesepakatan bersama).
  • Jadikan keluarga sebagai sistem pendukung dan unit pemecahan masalah yang bermanfaat bagi anak, dipandu orang tua yang menjalankan peran pemimpin tapi berbasis cinta.
  • Menekankan kerja keras sebagai kunci sukses, dengan usaha individual, motivasi dari dalam diri, komitmen dan kepercayaan diri sebagai resep keberhasilan.
  • Rancang waktu-waktu beraktivitas di sekitar rumah selama 25 – 35 jam per minggu (misalnya membaca, melakukan hobi, olahraga, dan lain-lain) dan mengeksplorasi lingkungan bersama-sama sebagai sumber belajar.
  • Cobalah untuk tertarik pada aktivitas anak di sekolah dan di rumah. Dorong anak untuk menceritakan aktivitas mereka.
  • Jangan membandingkan antar saudara, pandang setiap anak sebagai individu yang memiliki keunikan kualitas dan kemampuan.
  • Bantu anak mengelola waktu dan menetapkan prioritas.
  • Dorong anak untuk memiliki minat di luar sekolah. Ketika hasil belajarnya buruk, jangan cepat-cepat menuding kegiatan luar sekolah sebagai sumber masalah dan menghukum anak untuk tidak boleh lagi berkegiatan.
  • Bantu anak mendapatkan mentor/pembimbing yang dapat menjadi contoh terkait suatu karier atau kualitas personal yang diinginkan. Misalnya, bukakan jalinan interaksi dengan paman yang bisa menjadi model peran, atau Anda sendiri yang berusaha untuk dapat menjadi model bagi anak.
  • Batasi waktu menonton TV dengan membuat kesepakatan-kesepakatan yang realistis.
  • Konsisten dan tenang menghadapi naik turunnya prestasi anak, fokuskan pada masalah, jangan bertindak emosional.

Apa Yang Dapat Orang tua Lakukan Bekerjasama Dengan Sekolah?

Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk menjalin kerjasama dengan guru dalam mengatasi masalah anak underachiever:

  • Berkonsultasi secara berkala dengan guru-guru untuk memonitor perkembangan prestasi anak.
  • Terlibatlah dalam aktivitas sekolah, Anda akan bisa lebih mengerti apa yang diharapkan sekolah dari siswa-siswanya dan bagaimana mereka memperlakukan siswa.
  • Pastikan bahwa guru anak Anda ikut menyadari adanya masalah underachievement ini dan akan ikut berusaha mengarahkan anak Anda.
  • Pastikan anak Anda bisa mengikuti kelas remedial atau konseling individual/kelompok jika diperlukan.
  • Tanyakan pada pihak sekolah apakah ada cara belajar tertentu di sekolah yang mesti dikuasai anak ; dan jika ada, usaha apa yang dilakukan sekolah untuk mengajarkannya, dan apa dukungan yang bisa diberikan orang tua di rumah.
  • Tanyakan pada pihak sekolah apa saja yang mereka lakukan agar kurikulumnya menantang, bermakna secara personal, dan rewarding untuk anak.

Kembangkan terus kerjasama dengan pihak sekolah yang disesuaikan dengan permasalahan spesifik anak. Kerjasama dengan sekolah merupakan suatu hal yang patut dan berharga untuk dibangun oleh orang tua dalam mengoptimalkan prestasi anak, baik secara akademik maupun non akademik sesuai dengan bakat dan minat anak.

Sementara itu jangan lupa untuk terus melakukan perbaikan internal di dalam rumah yang dapat lebih mendorong anak untuk mau berprestasi. Sesuaikan dengan kondisi perkembangan psikologis anak terutama remaja yang sedang berada dalam masa perubahan dari anak-anak menjadi dewasa. Komunikasikan usaha-usaha yang dilakukan orang tua dengan sekolah sehingga tidak ada salah satu pihak yang merasa disalahkan sebagai penyebab anak menjadi underachiever.

Bagi Anda, para orang tua, kenali secara dini gejala underachiever ini. Carilah informasi tentang minat dan bakat anak yang sesungguhnya untuk bisa mengetahui apakah prestasi sekolahnya sudah optimal.