To learn to read is to light a fire; every syllable that is spelled out is a spark - Victor Hugo

 

Komitmen kuat untuk memberi layanan terbaik dan terus meningkatkan kualitas.

 

Laporan Asesmen Psikologis

PrintEmail
Indria Astuti

Serial Catatan Kecil

SERIAL CATATAN KECIL adalah tulisan-tulisan ringan yang diperuntukkan bagi mahasiswa Psikologi dengan bidang minat Psikologi Industri dan Organisasi yang kelak ingin berkarier sebagai konsultan SDM. Dalam SERIAL CATATAN KECIL akan dibahas berbagai isyu di dunia kerja yang bersentuhan dengan peran psikolog, sekedar untuk membuka wawasan, atau mengingatkan kembali hal-hal kecil 
yang kadang terlupakan.

Laporan asesmen Anda sangat komprehensif, tapi bukan manajer seperti itu yang dicari perusahaan!

Bagaimana menanggapinya jika kalimat itu ditujukan pada kita? Berikut rekomendasi dari sekelompok rekan mahasiswa psikologi :

Awalnya kami akan mengkonfirmasi lagi kriteria awal yang telah disetujui oleh pihak manajemen sebelum melakukan asesmen.

Jika kriteria awal dan hasil asesmen terhadap si calon manajer ternyata memang sesuai, maka kami akan mencoba membahasakan laporan psikologis ke dalam bahasa yang lebih applicable dalam manajerial. Misalnya dengan mengkomunikasikan tipe kepemimpinannya yang transaksional akan bermanfaat dan akan mendatangkan keuntungan bagi perusahaan karena karyawan perusahaan ini cocok dengan gaya kepemimpinan tersebut. Kinerja karyawan akan meningkat dan keuntungan perusahaan tentunya akan meningkat.

Tapi jika ternyata pihak manajemen masih tidak setuju, maka hal yang dapat dilakukan adalah menyusun kriteria baru bersama pihak manajemen. Kali ini semua harus lebih jelas dan benar, karena asesmen yang berulang kali akan membuang biaya, waktu dan tenaga.

Jadi intinya menurut kami, seorang psikolog harus dapat mengkomunikasikan bahasa psikologis ke dalam bahasa manajemen yang lebih dapat diterima dalam perusahaan. Karena memang tujuan dari perusahaan adalah untuk mencari profit. Manajemen akan lebih gembira mendengar bahasa yang efektif, logis, tepat sasaran, dan memaparkan keuntungan.

Jawaban cerdas!

Ada poin yang sangat bagus di sini, yaitu faktor bahasa. Betul sekali! Psikolog kadang lupa untuk siapa dia menulis laporan. Apa yang biasa dikerjakan di kampus langsung saja diadopsi sebagai cara kerjanya di dunia praktek. Padahal, seringkali laporan asesmen di kampus lebih ditujukan untuk Pak dan Bu dosen sehingga sarat dengan istilah dan logika yang hanya psikolog yang paham. Lha ya iya toh, Pak dan Bu dosen kan mesti mengetahui bagaimana kita berpikir. Tapi ketika sampai di dunia kerja sungguhan, yang dibutuhkan perusahaan adalah gambaran yang jelas tentang individu yang di-ases. Bahkan kadang pihak perusahaan tidak terlalu mudeng dengan gambaran seperti … kecerdasan umumnya tergolong superior, ia memiliki stabilitas emosi yang baik dan memiliki sensitivitas yang tinggi akan perasaan dan kebutuhan orang lain … Waduuuh … superior itu apa? Kalau superior itu lantas dia bisa apa? Apa kemudian itu berarti dia akan bisa diandalkan dalam menjual produk? Stabilitas emosi itu apa artinya? Gak pernah marah? Sabar?

Untuk bisa menulis laporan yang mudah dibaca awam, yang pasti kita mesti mencoba memahami pekerjaan yang di-ases. Sedapat mungkin bisa melihatnya langsung atau dengan mewawancarai pemegang pekerjaan dan atasannya. Apa saja sih yang dikerjakan? Yang disebut “bekerja baik” itu kongkritnya yang seperti apa, yang “tidak baik” seperti apa? Dari sini kita akan tahu diferensiasinya dan bisa menarik kriteria dengan lebih baik. Nah, ketika menulis laporan, kita “ceritakan” saja bagaimana jadinya orang itu kalau mengerjakan kegiatan-kegiatan tadi. Jadi bukan sekedar merangkai kata-kata dari definisi kriteria/aspek psikologis/jabaran kompetensi.

Kembali ke laptop, ups .. ke persoalan di atas, tampak bahwa sebetulnya pihak perusahaan sudah mengapresiasi laporan kita yang komprehensif sehingga kemungkinan besar masalahnya lebih karena ada something wrong pada kriteria. Bisa wrong-nya dari dia, bisa dari kita sebagai asesornya.

Dari jawaban diberikan tadi kelihatan ada sikap yang baik, yaitu kesediaan untuk menelusuri dahulu tepat tidaknya kriteria, kelompok ini pun memperhatikan unsur efisiensi (kalau asesmen diulang terus, akan menghabiskan biaya, waktu, dan tenaga). Jadi, dari semula psikolog mesti paham bahwa analisis yang cermat harus dilakukan sejak awal agar tidak membuang sumber daya sia-sia. Pada dunia praktek, kadang-kadang masih ada asesor yang kurang cermat dalam menetapkan kriteria bersama dengan klien. Jangan malas, “Ah, kalau cuma salesman doang sih saya sudah taulah kriterianya, di buku juga ada”. Jangan sampai kita mengabaikan kekhasan konteks pekerjaan. Salesman? Apa yang dijual? Jual mobil dan jual panci kan akan beda. Karakteristik pihak yang mesti dipersuasi, suasana tempat bertemunya kemungkinan besar berbeda dan punya dampak juga.

Psikolog juga tidak boleh terpaku pada titel jabatan, jangan lupa mempertimbangkan kondisi yang ada di perusahaan. Judulnya bisa saja Manager tapi nyatanya menurut kebiasaan di sana setiap keputusan justru diambil oleh technical advisor-nya yang orang Korea, misalnya. Sehingga ketika kita amati di lapangan, yang diperlukan justru bukan manager yang sangat mandiri.

Satu hal yang juga kita bisa mengerti, kadang pihak perusahaan tidak begitu rajin memberi informasi. Apalagi kalau cuma mengirim satu dua orang ke biro psikologi untuk asesmen. Kirim uraian jabatan pun tidak. Nah, kalau kita nanti mau jadi penyedia jasa asesmen, pintar-pintarlah menyiapkan perangkat. Secara moral tentu kita mesti menghasilkan sesuatu yang akurat. Tapi kondisi sering membatasi. Keterbatasan biaya, biasanya itu yang paling nyata. Moso’ cuma mau kirim 2 orang saja mesti bayar sekian juta untuk studi pekerjaan? Atau, kalau dari pihak psikolog, wong cuma harga 2 asesmen operator mesin saja moso’ kita beri fasilitas gratis studi pekerjaan komplit?

Oleh karena itu, siapkan perangkat penelusuran pekerjaan mulai dari yang sederhana sampai yang komprehensif. Kalau “proyek”nya besar, jangan lupa untuk lakukan studi yang cukup mendalam. Perusahaan pasti tidak mau nilai proyek yang besar itu cuma menghasilkan laporan yang akurasinya rendah. Kalau yang kecil-kecil, selain minta uraian pekerjaannya, siapkan kuesioner singkat untuk menelusuri nature konteks pekerjaan, tapi pengisiannya mesti mudah. Sedapat mungkin, sebelum asesmen dilaksanakan, sudah bisa dicapai kesepakatan tentang kriteria.

Kesimpulannya :

  • Paham betul pekerjaan adalah sesuatu yang sangat mendasar. Ingat, sebagai psikolog untuk asesmen yang tujuannya seleksi, yang kita lakukan bukan semata-mata membuat gambaran individu, tapi melakukan job-person matching. Kita mesti memahami pekerjaan sama baiknya seperti kita berusaha memahami individunya.
  • Kesepakatan dan kesamaan persepsi dengan pihak pengguna jasa adalah sangat penting. Kita mesti bisa bicara dengan bahasa mereka, dan bisa memahami bahasa mereka dalam bahasa kita. Kadang mereka juga mesti dibantu dalam mengungkapkan keinginannya. Membantu memilah mana yang penting dan yang sekunder, mencari aspek-aspek kritis yang mungkin terabaikan, dan sebagainya. Jangan lupa untuk mengambil kesepakatan, termasuk bentuk laporan dan konsekuensinya.
  • Laporan asesmen adalah representasi keahlian kita. Orang menilai kemampuan kita dari produk laporan kita. Bahkan kalau situasinya kurang menguntungkan, secarik laporan bisa menyeret kita ke dalam konflik. Kalau perlu buatlah pengantar bagaimana “membaca” dan memperlakukan laporan itu, termasuk perkiraan tingkat akurasi asesmen karena terkait dengan metode asesmen yang dipilih dan kelengkapan informasi yang ada.

Masih banyak lagi yang mesti kita pelajari terkait dengan dinamika asesmen psikologis ini, di luar kemampuan teknis asesmennya itu sendiri. Banyak-banyaklah mendengar tanggapan non psikolog terhadap asesmen dan laporan asesmen, pahami apa yang dibutuhkan masyarakat. Dan jangan bosan-bosan membantu mengedukasi masyarakat tentang apa itu asesmen psikologis.