To learn to read is to light a fire; every syllable that is spelled out is a spark - Victor Hugo

 

Komitmen kuat untuk memberi layanan terbaik dan terus meningkatkan kualitas.

 

Jangan Menunda

PrintEmail
Neni Indra Melani

“Besok saja deeeh mengerjakannya, kan masih ada waktu 3 hari.”

“Nanti saja ah, sekarang istirahat dulu….”

“Belum ada ide nih…”

Menunda pekerjaan merupakan “penyakit” yang pasti semua orang pernah lakukan, sengaja maupun tidak sengaja. Alasannya bisa banyak, sibuklah, tidak mood, sekedar malas, atau manajemen waktunya tidak efektif. Kadang-kadang kalau mengerjakan sesuatu dalam waktu yang mepet rasanya justru lebih semangat, lebih banyak ide yang keluar dan lebih terdorong untuk menyelesaikan tugas dengan cepat. Dalam keadaan mepet rasanya kita terpaksa mengeluarkan seluruh kemampuan dan pengetahuan kita. Selain itu, kita juga lebih cepat dalam mengambil keputusan.

Menunda pekerjaan akan terasa merugikan ketika ada efek buruk mengenai kita. “Ah, harusnya waktu itu langsung saya kerjakan, jadi saya punya waktu untuk cek lagi dan tidak berantakan seperti ini.” Yang bahaya adalah jika menunda pekerjaan tidak memberikan efek buruk pada kita. Berbahaya karena bisa menjadi pengukuh kebiasaan menunda. Ini yang sepertinya banyak terjadi pada orang. Jadi, apa yang bisa kita lakukan dengan kebiasaan menunda pekerjaan ini?

Fenomena menunda pekerjaan ini sering kita sebut sebagai procrastination. Secara teknis berarti menghindari pekerjaan yang seharusnya diselesaikan. Orang yang melakukan procrastination disebut procastinator. Procrastination bisa terjadi karena:

  • Pekerjaan yang dilakukan tidak dimengerti, membingungkan atau tidak sesuai dengan minat kita sehingga sulit sekali untuk termotivasi memulai pekerjaan tersebut.
  • Perfeksionis. Bagi orang-orangyang perfeksionis, ada satu standar yang terkadang sulit sekali untuk dicapai sehingga menurunkan semangat untuk mengejar standar tersebut.
  • Kecemasan terhadap pandangan atau penilaian orang lain terhadap pekerjaan kita. Hal ini membuat kita takut untuk menyelesaikan tugas.
  • Kecemasan terhadap hal-hal yang belum diketahui. Jika kita mencoba suatu tugas baru, kita cenderung takut membuat kesalahan sehingga kita menghindar dari tugas tersebut.
  • Tidak memiliki kemampuan atau keterampilan untuk menyelesaikan tugas sehingga rasanya lebih mudah untuk menghindar atau tidak mengerjakannya sama sekali.

Dengan banyaknya penyebab procrastination, maka bermacam-macam pula bentuk perilaku procastionation. Perilaku seperti apa saja yang biasanya kita sebut procrastination?

  • Yang paling mudah, pura-pura tidak tahu: “Tugas yang mana…?” Ketika kita tidak mengindahkan tugas yang mestinya kita selesaikan, rasanya tugas itu tidak ada atau bisa selesai dengan sendirinya. Padahal, tentu saja tidak demikian.
  • Untuk menghindar dari tugas, kita sering menganggap remeh tugas tersebut sehingga tidak masalah kalau ditunda dahulu. “Itu sih gampang, nanti saja dikerjakannya…”
  • Menggantikan tugas yang seharusnya diselesaikan dengan tugas lain. “Wah laporan kegiatan bulanan belum selesai, habis saya sibuk membantu boss menyiapkan meeting dengan pengusaha Jepang itu sih, jadi tidak sempat …”
  • Kadang-kadang kita menganggap penundaan sedikit tidak akan berpengaruh. Misalnya menonton acara TV lima menit saja sebelum memulai tugas. “Nonton TV dulu ah, acaranya bagus.” Tapi biasanya yang kita temui, justru akhirnya kita menonton TV terus tanpa menyelesaikan apapun.
  • Pernah membawa tugas kantor ke rumah? Atau membawa laporan saat akhir pekan atau liburan? Kalau ya dan tugas tersebut diselesaikan berarti Anda hebat. Namun jika Anda lakukan itu tapi tetap saja tidak dikerjakan bahkan tidak disentuh sama sekali, Anda termasuk procastinator. Sebenarnya membawa tugas ke rumah hanya usaha mendramatisir tugas dan mencari rasa aman.
  • Sulit memutuskan pilihan. Waktu lebih banyak dihabiskan untuk menentukan topik apa yang yang harus dipilih atau tugas mana yang mau dikerjakan dahulu. Akibatnya waktu untuk menyelesaikan tugas menjadi berkurang.
  • Kadang-kadang, walaupun kita sudah memulai tugas yang harus diselesaikan, kecenderungan menunda tetap ada, yaitu jika kita banyak menghabiskan waktu pada satu bagian tugas saja. Biasanya pada waktu awal ketika menyusun bagian pendahuluan atau pada hal-hal yang kita sukai, misalnya memilih-milih bentuk huruf!

Pertanyaan selanjutnya adalah, “apa yang harus dilakukan untuk mengatasi perilaku procrastination ini?”

  1. Yang pertama, pastikan perilaku procrastination apa yang paling sering muncul dari diri Anda.
  2. Jujurlah ketika membuat keputusan dalam penyelesaian tugas. Akui jika memang tidak bisa atau tidak mau atau hanya punya waktu sedikit untuk menyelesaikan tugas, ketimbang muncul rasa bersalah kemudian.
  3. Lihat konsekuensi dari penyelesaian tugas, baik jika berhasil maupun tidak. Jika tugas berhasil diselesaikan, maka seolah-olah kita telah membuat investasi yang akan kita rasakan hasilnya kemudian. Kalau kita punya tujuan yang “menguntungkan”, lebih mudah untuk memacu diri menyelesaikan tugas. Kalaupun kita tidak berhasil menyelesaikan tugas, kita juga perlu tahu konsekuensi apa yang kita dapat dan berani menerimanya.
  4. Pahami mengapa tugas tersebut harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu sehingga kita bisa ikut merasakan dan memikirkan efek yang kita perbuat terhadap tugas tersebut. Misalnya semakin cepat kita menyelesaikan tugas, semakin mudah orang lain untuk menindaklanjutinya.
  5. Pecah tugas dalam beberapa bagian beserta waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Jika memungkinkan susun mulai dari yang termudah dahulu atau yang paling mungkin diselesaikan sehingga kita termotivasi untuk menyelesaikan tugas yang lebih sulit.
  6. Buatlah daftar tugas yang bisa kita lihat setiap saat. Kalau perlu, letakkan di beberapa tempat.
  7. Ajak orang lain untuk membantu mengingatkan anda. Kalau anda punya buddy, manfaatkan dia.
  8. Kalau kita mudah terpengaruh lingkungan, maka cari atau buatlah lingkungan yang mendukung konsentrasi anda. Hilangkan hal-hal yang bisa mengganggu. Misalnya, pindah ke ruangan lain, matikan TV, kerjakan pada waktu dimana tidak banyak orang, dan sebagainya.
  9. Buatlah catatan mengenai keberhasilan mengerjakan tugas sesuai target waktu. Cara ini bisa memotivasi kita untuk mengulangi lagi perilaku tersebut.

Tentunya masih banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi procrastination ini. Yang perlu disadari, procrastination ini terkadang sulit dihindari. Memang procrastination hampir selalu dihubungkan dengan sifat negatif, seperti malas, tidak pandai membagi waktu, inadekuat atau tidak matang secara pribadi. Tapi banyak juga orang yang justru bisa bekerja lebih baik dalam kondisi mepet setelah menunda pekerjaan. Namun pastinya, cara kerja seperti ini tidak bisa setiap saat dilakukan, apalagi jika yang dikerjakan banyak, bervariasi dan melibatkan orang lain. Jadi, tetap usahakan untuk tidak menjadi procastinator. Kalaupun masih jadi procastinator juga, jadikan kondisi tersebut kondisi yang produktif.