To learn to read is to light a fire; every syllable that is spelled out is a spark - Victor Hugo

 

Komitmen kuat untuk memberi layanan terbaik dan terus meningkatkan kualitas.

 

Berdamai dengan Asisten Rumah Tangga

PrintEmail
Erfianne S. Cicilia, Psi

Dibalik cerita semarak Hari Raya Lebaran, selalu ada cerita tentang kesibukan ibu rumah tangga memastikan kelancaran urusan domestik rumahtangga. Simak percakapan seorang ibu yang sedang berbelanja di sebuah pasar swalayan melalui ponselnya:

“Saya maunya yang bisa megang anak kecil lho”

“Saya nggak mau ambil risiko dong. Saya nggak mau kalau sampai Jakarta nanti, dia malah pindah ke tempat lain”

“Ok deh, saya tunggu secepatnya ya. Saya sudah bolos kantor tiga hari nih!”

Bisa kita tebak bahwa perbincangan tersebut terkait dengan kebutuhan si ibu akan seorang Asisten Rumah Tangga (ART). ART memang menjadi kebutuhan besar bagi keluarga yang bekerja di kota besar seperti Jakarta, dimana lebih dari separuh hari mereka dihabiskan di luar rumah. Untuk itu, mereka memerlukan sosok ART sebagai perpanjangan tangan dalam mengurus seisi rumah yang ditinggalkan hampir seharian.

Di sisi lain, tanggung jawab yang diemban seorang ART tidaklah kecil. Ia harus menjaga kebersihan, keamanan, bahkan ketersediaan makanan bagi seluruh penghuni rumah. Belum lagi jika majikannya telah memiliki anak, ART juga mengemban tugas mulia menjadi orang tua pengganti selama sang orang tua kandung mencari nafkah. Peranan krusial ini juga yang membuat para ibu rumah tangga tidak bisa sembarangan dalam memilih ART. Para ibu harus yakin bahwa ART pilihannya benar-benar kompeten dalam menjalankan tugas sehari-hari, serta tidak akan melakukan sesuatu yang bisa mengancam keselamatan keluarga.

Sebagai pihak yang memegang tampuk ke-rumahtangga-an di keluarga, terkadang para ibu merasa kedudukannya jauh lebih tinggi dari ART sehingga kemudian dengan bebas memerintah ART sesuka hati. Banyak ibu tidak menyadari bahwa pola interaksi seperti ini sudah tidak sesuai lagi. Kita tidak bisa menyamakan ART yang bekerja saat ini dengan para bibi atau mbok yang dulu ikut mengasuh kita sejak kecil hingga dewasa. ART dua dekade yang lampau bekerja dengan spirit pengabdian pada majikannya, sedangkan ART jaman sekarang bekerja semata-mata demi penghasilan. Perkembangan zaman telah membuat ART menjadi sebuah komoditi berharga sehingga interaksi antara pemilik rumah dan ART saat ini lebih menyerupai sebuah industrial relation antara pengguna dan pemberi jasa.

Untuk melunakkan kesan hubungan kerja profesional di atas, antara ibu (atau keluarga pengguna jasa) dengan ART sebenarnya bisa diibaratkan seperti hubungan dua orang yang berpacaran. Saat memulai suatu hubungan, kedua belah pihak pasti berharap bahwa hubungan yang dijalin akan langgeng dan saling mengisi serta menguntungkan. Konsep ini juga baik diterapkan dalam menjalin hubungan dengan ART baru. ART punya kebutuhan untuk bekerja mencari nafkah dan meningkatkan martabat hidupnya, sementara ibu sebagai wakil keluarga juga punya kebutuhan mendapatkan ART yang bisa dan bersedia membantunya mencukupi kebutuhan keluarga. Dua pihak ini jelas saling membutuhkan, maka harus ada kerjasama, komunikasi, serta pengorbanan demi pencapaian kepuasan bersama. Kata kunci yang bisa ibu digunakan untuk terjalinnya hubungan baik dengan ART adalah dengan berdamai.

Berdamai dengan kriteria ART

Ibarat mencari kekasih idaman, kriteria kita terhadap (calon) pasangan mungkin terlalu tinggi. Ketika menemukan kenyataan bahwa pacar yang didapat ternyata tidak sesuai kriteria, ada dua hal yang bisa dilakukan: putus atau berdamai dengan karakteristik pacar.

Ibu pasti memiliki kriteria tertentu dalam mencari ART baru. Pada saat inilah ibu hendaknya bersikap realistis. Tak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan ibu adalah mendapatkan ART yang mampu menjaga kebersihan rumah, rapih, bisa mencuci, menyetrika, plus berakhlak baik sehingga mampu mengasuh atau membimbing anak sekaligus. Tentunya sangat sulit menemukan ART yang mampu melakukan ini semua. Hal yang bisa dilakukan di awal adalah menentukan satu atau dua kriteria terpenting yang harus dimiliki ART, misalnya mengasuh bayi dan memasak. Dengan demikian ibu bisa lebih cepat menemukan ART yang memenuhi kriteria dan bisa mengajarkan kriteria lain di kemudian hari.

Berdamai dengan peraturan

Pasangan baru biasanya masih memiliki kebiasaan yang berbeda karena mereka berasal dari lingkungan, budaya, dan latar belakang yang berbeda pula. Aturan dan kebiasaan yang dipercaya pun biasanya berbeda. Haruskah memaksakan aturan atau kebiasaan kita ke pasangan? Bisakah berkompromi mengenai aturan dan kebiasaan yang berbeda?

Kasus yang sering terjadi adalah saat ibu menegakkan aturan-aturan tertentu terhadap anaknya, namun di saat yang bersamaan ART merasa tersiksa dengan aturan tersebut. Misalnya aturan anak tidak boleh menonton TV sepulang sekolah, padahal saat itulah ART butuh refreshing setelah membersihkan dan merapikan rumah. Dalam hal ini, ibu perlu berkomunikasi dengan ART. Jelaskan tujuan-tujuan dari setiap aturan yang ibu terapkan sehingga ART lebih paham konsekuensi dari penerapan aturan tersebut. Jika perlu, buat kesepakatan dengan ART agar mereka tetap mau membantu ibu menegakkan disiplin di rumah. Misalnya ART boleh menonton TV sepuasnya saat anak tidur dengan suara TV pelan.

Berdamai dengan keterbukaan

Rasanya senang sekali jika pasangan melakukan sesuatu yang membuat bahagia dan berbung-bunga. Terkadang pasangan melakukan hal-hal tersebut tanpa kita minta, namun ada kalanya kita perlu meminta agar pasangan mau melakukan hal-hal yang membuat kita senang.

Terkadang ibu begitu saja meyakini bahwa ART sudah piawai melakukan tugas-tugasnya seperti mencuci, memasak, menyapu dan mengasuh anak. Tanpa ibu sadari, ART tentu mencuci, memasak, mengasuh anak dengan gayanya sendiri. Setelah mendapatkan hasil kerja yang tidak sesuai standar, barulah ibu mengeluh. Kerugian ini kerap kali terjadi semata-mata hanya karena ibu tidak mengkomunikasikan standarnya dengan baik. Keterbukaan mengenai apa yang ibu inginkan hendaknya disampaikan secara spesifik sehingga ART mengerti apa dan bagaimana ia harus melakukan segala sesuatu. Setelah melihat hasil kerja ART, hendaknya berikan masukan (umpan balik) agar ia bisa mengevaluasi kerjanya. Jangan ragu untuk memberi pujian saat pekerjaan ART sudah sesuai harapan. Keterbukaan untuk memberi teguran dan pujian mungkin dipandang sebagai hal kecil, namun dari segi psikologis hal ini sangat membantu ART karena merasa pekerjaannya diperhatikan.

Berdamai dengan diri sendiri

Ketika sudah tidak tahan berhadapan dengan pasangan yang tidak pengertian, bersikap seenaknya sendiri, dan banyak menuntut,seringkali kita tergoda untuk mengambil jalan pintas: berpikir “masih banyak orang lain yang lebih OK” dan begitu saja memutuskan hubungan. Jarang sekali kita bersedia mencari sisi positif dari pasangan yang patut dipertahankan.

Hal ini juga kerap terjadi pada para ibu yang secara emosional memutuskan hubungan kerja dengan ART. Kadang ibu lupa bahwa usaha dan waktu untuk mencari ART baru akan jauh lebih sulit dibanding mau berusaha memperbaiki hubungan kerja dengan ART. Dalam hal ini, ibu perlu berdamai dengan diri sendiri. Evaluasi lagi, apakah ART memang sudah tidak layak dipertahankan atau sebenarnya masih bisa dikembangkan. Sediakan waktu untuk mempertimbangkan saat bermasalah dengan ART. Pertimbangkan masak-masak apakah dengan memaafkan kesalahan ART, ibu dapat menghemat waktu berharga alih-alih membuat waktu itu untuk bersusah payah mencari ART baru. Jangan sampai kedamaian keluarga jadi terusik karena emosi ibu memecat ART berujung pada kerepotan menyeimbangkan kesibukan rumah tangga dan pekerjaan kantor.

Pada akhirnya, tentu bukanlah hal mudah untuk bisa berdamai dengan ART. Namun demi tercapainya kedamaian keluarga, yakinlah ibu akan mampu memutuskan yang terbaik.