To learn to read is to light a fire; every syllable that is spelled out is a spark - Victor Hugo

 

Komitmen kuat untuk memberi layanan terbaik dan terus meningkatkan kualitas.

 

Adversary Mental Profile

PrintEmail
Drs. T. Irwan Amrun, M. Psi

Adversary Mental Profile

(Profil Mental Pemenang)

 

Survive dan Berkembang

Kehidupan di dunia mempunyai ciri khas seleksi alam, sehingga menuntut setiap makhluk yang berada di dalamnya untuk berupaya melakukan aktivitas-aktivitas untuk mempertahankan hidupnya dan mengembangkan dirinya. Untuk mampu bertahan hidup, setiap makhluk harus mampu berkembang, yaitu mengalami perubahan menuju pada kemampuan dan kondisi yang lebih baik. Begitu pula untuk berkembang, setiap makhluk harus mampu mempertahankan hidupnya dalam kondisi yang sehat, prima, dan bugar sehingga tidak jatuh pada keadaan yang kurang berdaya. Tak terkecuali pada manusia, ketika ia gagal dalam mempertahankan hidup dan mengembangkan dirinya, maka ia akan terseleksi alam baik dalam dimensi fisik maupun dalam dimensi sosial.

Kemampuan bertahan hidup dan berkembang merupakan kemampuan vital pada diri manusia untuk menghadapi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan di dalam kehidupannya. Segala permasalahan dalam kehidupan ini baik yang dihadapkan kepada kita maupun yang kita buat sendiri seperti target capaian, impian, dan sebagainya merupakan sebuah adversary yang harus mampu untuk kita selesaikan. Kemampuan mental untuk menghadapi dan menyelesaikan adversary ini disebut dengan mental adversary. Upaya bertahan hidup dan mengembangkan diri akan berdampak pada peningkatan kualitas mental adversary seorang individu.

Kebutuhan akan Adversary Mental Profile (AMP)

Adanya adversary atau segala bentuk tantangan, cobaan, ujian yang merupakan bagian dari kehidupan dunia merupakan kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap makhluk tak terkecuali manusia. Untuk menghadapi adversary ini diperlukan berbagai pengetahuan, kemampuan, sikap, dan berbagai aspek psikis yang mendukung untuk menggerakkan dan mengendalikan individu dalam melakukan aktivitas di dalam hidupnya. Mental sebagai software dari jasad individu memegang peranan penting dalam menentukan kemampuan individu untuk menghadapi adversary dalam kehidupannya.

Tak hanya pada individu, organisasi dan bahkan negara pun membutuhkan mental adversary untuk menghadapi berbagai ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan dalam perjalanan hidupnya, atau pilihan lainnya adalah akan terseleksi secara alam dan mengalami kemunduran atau bahkan kehancuran. Untuk membangun mental adversary yang unggul dan sesuai dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi, perlu diketahui kekuatan-kekuatan mental apa saja yang dibutuhkan. Untuk membantu dalam memetakan profil mental adversary masing-masing individu dan menginterpretasikannya secara tepat apa maknanya, diperlukan suatu alat ukur yang mampu memetakan kedudukan dari mental adversary setiap orang. Ini menjadikan perlunya untuk dibuat suatu profil mental adversary atau disebut sebagai Adversary Mental Profile (AMP). Dengan adanya AMP, setiap individu dapat mengetahui kedudukan mental adversary–nya dari tiap-tiap klaster ketangguhan, ketahanan, dan fleksibilitas mental.

AMP selain berguna sebagai sarana untuk mawas diri, juga dapat digunakan untuk mengukur kecocokan seseorang dengan suatu posisi dan peran, serta sebagai dasar yang objektif dalam upaya pengembangan sumber daya manusia. Melalui pengukuran AMP individu dan menyesuaikannya dengan pembangunan posisi dan peran dalam suatu organisasi, maka kecepatan, bentuk, serta target-target capaian dari suatu organisasi atau tim dapat dirancang menjadi lebih efektif sehingga lebih produktif. Hal ini mampu membawa produktivitas di berbagai organisasi yang pada akhirnya juga menguatkan nilai adversary organisasi-organisasi tersebut. Dalam skala yang lebih besar, hal ini juga akan menguatkan AMP bangsa dan negara. AMP ketika dielaborasi dengan manajeman organisasi yang mendukung, akan menghasilkan kekuatan sumber daya manusia yang unggul dimana hal ini merupakan sumber daya terkuat dari suatu bangsa.

Pengembangan Alat Ukur Adversary Mental Profile

AMP adalah suatu istilah untuk menggambarkan sifat mental seseorang berdasarkan ketangguhan (T - toughness), ketahanan (R - resilience), dan fleksibilitasnya (F - flexibility). AMP mengukur tingkat kekuatan pikiran dari tiga dimensi di atas dan memetakannya ke dalam posisi koordinat yang akan menjadi profil bagi mental tiap-tiap individu. Ketangguhan mental diukur berdasarkan kemampuan mental dalam melakukan kerja secara aktif. Sedangkan ketahanan mental diukur berdasarkan kemampuan mental dalam mempertahankan suatu kinerja dalam situasi yang berbeda-beda. Berikutnya fleksibilitas mental diukur berdasarkan kemampuan mental dalam melakukan penyesuaian terhadap berbagai perubahan situasi untuk menghasilkan beban yang minimal terhadap situasi yang dialaminya atau untuk mampu mempertahankan kinerja pada situasi yang berbeda menggunakan cara yang berbeda sehingga tujuan yang akan dicapai tetap mampu tercapai.

Tujuan dari pemetaan mental adversary berdasarkan tiga parameter ketangguhan, ketahanan, dan fleksibilitas mental ini adalah untuk mengetahui tentang posisi mental adversary seseorang dan menghubungkannya dengan peta kondisi yang dihadapi pada suatu tugas atau permasalahan tertentu. Dengan pemetaan pada diagram kartesian tiga dimensi, analisa mental dan kebutuhan mental untuk melakukan suatu tugas tertentu dapat dilakukan secara objektif dan akurat.  Dalam konsep pengukuran AMP juga terdapat ukuran positif dan negatif. Nilai positif dan negatif ini bukan menyatakan kekuatan (magnitude) yang lebih atau kurang, melainkan menyatakan nilai dari kekuatan tersebut berdasarkan etika atau positivitas moral.  Jika profile kekuatan mental seseorang tanpa melihat sisi attitude dan moral.

Dalam pengembangannya, AMP menggunakan sebagian dari subklaster yang ada untuk digunakan sebagai parameter, yakni Mental Toughness (MT), Resilience Scale (RS), dan Flexibility Index Test (FIT).  Sementara sebagian lainnya memadukan dari klaster 9 mental skill dan menyesuaikan ruang lingkup definisinya, sehingga tiap-tiap subklaster mampu menjadi bagian yang terpadu untuk mengukur ketangguhan, ketahanan, dan fleksibilitas mental individu.  Dari hasil pemetaan subklaster-subklaster yang memungkinkan untuk digunakan dalam membangun AMP, diperoleh penyusunan subklaster AMP yang terdiri dari delapan aspek psikologis, yatiu :

T-, R-, F-
T-, R-, F+
T-, R+, F-
T-, R+, F+
T+, R-, F-
T+, R-, F+
T+, R+, F-
T+, R+, F+

Sampai pada tahap ini, AMP baru disusun untuk mendapatkan profil individu yang bebas dari nilai moralitas. Pembuatan alat ukur yang mampu memetakan AMP individu dengan melibatkan unsur moralitas membutuhkan waktu dan pertimbangan metode pengukuran yang sangat kompleks mengingat jumlah item yang digunakan akan menjadi jauh lebih banyak. Selain itu, penggunaan moralitas untuk menentukan AMP seseorang juga membutuhkan kajian sosial budaya secara lengkap karena dengan memasukkan moralitas ke dalam alat ukur, berarti alat ukur yang digunakan akan menjadi tidak bebas budaya (non culture free instrument). Persoalan lain dari pembuatan alat ukur AMP yang melibatkan moralitas adalah pemetaan dari moralitas itu sendiri yang sebagiannya telah tercakup ke dalam subklaster yang ada, seperti commitment, managing emotion, dan values dimana pada klaster-klaster tersebut, nilai magnitude-nya juga menyatakan nilai moralitasnya.

Definisi operasional dari tiap-tiap subklaster:

Commitment; Keteguhan seseorang terhadap tujuan atau tugas kerja.
People Skill; Kemampuan dalam bersosialisasi dengan orang lain dan memelihara relasi.
Nyali; keberanian disertai dengan kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan, hambatan, dan resiko yang diperhitungkan. Nyali meliputi:

Keberanian; tingkat keyakinan untuk melakukan sesuatu.
Challenge; perbedaan individu dalam pendekatannya terhadap tantangan.
Perseverance; ketekunan untuk berjuang dalam kesulitan.
Kepercayaan diri; tingkat keyakinan atas kemampuan diri sendiri

Regulasi Diri; Kemampuan untuk mengendalikan dan mengarahkan dorongan serta kebutuhan, mengatur emosi dan pengungkapannya, memusatkan energi dan perhatian, dan mengarahkan tindakan yang dilakukan secara voluntary.  Kemampuan ini dapat dilatih dan dikembangkan. Regulasi diri meliputi:

Motivation; kemampuan memelihara dan mempertahankan tingkat motivasi diri.
Managing Emotion; Kemampuan mengelola emosi menjadi kekuatan.
Managing anxiety; Kemampuan mengelola kecemasan menjadi kekuatan.
Concentration; Kemampuan mencapai dan menjaga fokus pikiran
Control; ukuran sejauh mana seseorang merasakan dirinya berada dalam kendali kehidupan mereka

Equanimity; Ketenangan jiwa dalam menghadapi tekanan atau stress.
Kerjasama Diri; kemampuan untuk menjalin kerjasama dengan diri sendiri dan lingkungan sehingga mampu dicapai keselarasan antara keadaan diri dan keadaan lingkungan. Kerjasama diri meliputi:

Values; kemampuan dalam menghargai sesuatu.
Acceptance; Kemampuan untuk menerima pengalaman yang ingin dihindari.
Defusion; Kemampuan menjinakkan pikiran sehingga tidak terlalu kuat mempengaruhi suatu persepsi.
Self-reliance; kemampuan mempercayai diri sendiri dan orang lain.

Kesadaran Diri; kemampuan diri dalam menyadari kondisi mental, perilaku, dan pengalaman yang sedang dilalui diri sendiri atau orang lain sebagai bentuk kenyataan hidup. Kesadaran diri meliputi:

Meaningfulness; kesadaran akan makna hidup diri sendiri dan orang lain.
Existential Aloneness; kesadaran bahwa kehidupan setiap orang tidak ada yang sama.
Present Moment; Kemampuan menyadari keadaan saat ini sehingga terjadi kontak psikis yang lebih kuat dan lebih nyata.
Self as context; Kemampuan berpikir transenden yang menjadikan menyadari semua keadaan.

Attitude; Kemampuan memilih dan mempertahankan sikap positif.

Delapan subklaster ini merupakan parameter yang menyusun dan mempengaruhi AMP individu. Subklaster satu hingga tujuh membentuk magnitude dari AMP, sedangkan subklaster kedelapan yaitu attitude menentukan zona AMP seseorang yang terkait dengan makna moralitas mentalnya.

Membangun Profil Mental Adversary

AMP dibuat untuk mengukur kualitas mental seseorang dari kemampuannya menghadapi adversary. Seseorang yang mempunyai AMP tinggi disebut memiliki mental yang unggul dalam melakukan segala sesuatu di dalam hidupnya. Untuk membangun keunggulan mental ini seseorang perlu berproses di dalam dirinya. Proses pengembangan diri selalu bermula pada pengenalan diri, yaitu mengenali sisi-sisi kelemahan dan kekuatan diri dan mengenali bagian mana yang perlu untuk dilakukan proses perubahan. Tanpa mengenali diri, proses pembelajaran yang terjadi tidak terarah sehingga tujuan dari pengembangan diri akan menempuh jalur yang lebih panjang. Selain memahami kekuatan dan keterbatasan diri, hal yang perlu dilakukan adalah senantiasa memperhatikan seluruh komponen yang bekerja pada diri kita sebagai individu.

Prinsip pengembangan diri yang perlu diterapkan adalah dengan memperbanyak kekuatan-kekuatan positif di dalam diri, memperkuat kekuatan-kekuatan positif, serta menurunkan jumlah dan kekuatan negatif yang ada di dalam diri. Proses ini secara keseluruhan disebut dengan mental detox and building. Proses pemberdayaan diri dalam membangun AMP yang unggul juga menerapkan prinsip mental detox and building melalui langkah yang tertuang dalam metode strategis berikut:

Memilih dan memilah pengetahuan yang memberdayakan
Membangun attitude yang positif
Membangun berbagai keterampilan mental
Membangun ketangguhan mental
Membangun ketahanan mental
Membangun fleksibilitas mental

Mulai dari pengetahuan, proses pemberdayaan diri dilakukan dengan memilih dan memilah pengetahuan yang masuk ke dalam diri sehingga pengetahuan yang positif terus meningkat dan pengetahuan yang negatif semakin menurun. Dengan pengetahuan yang positif akan terbangun kesadaran diri yang positif sehingga proses pengembangan diri dapat dilanjutkan pada tahap membangun attitude yang positif. Pada pembangunan attitude yang positif, juga dilakukan peningkatan secara kualitas maupun kuantitas atas attitude yang positif dan menurunkan attitude-attitude yang negatif. Pengetahuan dan attitude yang positif akan berperan sebagai fondasi bagi pembangunan keterampilan mental yang menjadi pengisi bagi AMP seseorang. Oleh karena itu, setelah membangun attitude yang positif, dilanjutkan dengan membangun berbagai keterampilan mental, yang dalam pembangunan AMP ditekankan pada pembangunan keterampilan-keterampilan mental yang mampu membangun ketangguhan, ketahanan, dan fleksibilitas mental dengan unsur-unsur sebagaimana telah diuraikan di atas.

Kesemuanya ini merupakan parameter yang membentuk jati diri seseorang, sehingga individu mampu memahami spesifikasi dirinya sendiri. Pemahaman jati diri terkait dengan keadaan yang ditampilkan (front state) dan juga keadaan yang tidak ditampakkan (back state). Orang yang paham tentang jati dirinya, ia akan selalu menyelaraskan antara front state dan back state-nya. Hal ini akan menjadi suatu keutuhan (ke-solid-an) diri individu. Melalui pemahaman akan jati diri inilah diharapkan setiap individu mampu untuk terus berkembang dan menjadi pemenang kehidupan. Pemenang kehidupan bukanlah seseorang yang mampu mengalahkan orang lain, tetapi yang mampu mencapai kepribadian luhur yang sesuai dengan jati dirinya sehingga ia mampu menjadi jati diri yang paripurna (insan kamil).