To learn to read is to light a fire; every syllable that is spelled out is a spark - Victor Hugo

 

Komitmen kuat untuk memberi layanan terbaik dan terus meningkatkan kualitas.

 

Yang Mana Karakter Organisasi Anda?

PrintEmail
Indria Astuti

Pernahkah Anda merenung sejenak ...

Di perusahaan si Budi itu gila-gilaan suasana kreatifnya. Setiap ide produk yang baru, betapapun kecilnya, selalu diseriusi. Pantas dari segi inovasi, perusahaan mereka selalu terdepan!
Ya ampuuun kalo di kantor si Rina sih semua mesti serba tertib, banyak aturan, bos-bosnya mesti dihormati. Seperti di keraton saja rasanya, tapi disiplin kerjanya memang oke!
Nah, kalau di perusahaan si Boy lain lagi, kompetitif banget! Semua orang berorentasi hasil dan paling bangga tiada duanya kalau prestasinya bisa melebihi target.
Di perusahaan saya? Wah, yang paling asyik sih kekeluargaannya. Bos-bos itu ngayomi seperti bapak atau ibu sendiri. Perusahaan saya pun sangat care banget pada customer, kita perlakukan mereka seperti mitra dekat

Wah, ternyata organisasi pun bisa punya karakter yang berbeda-beda. Biasanya bahasan seperti ini ada dalam kajian tentang budaya perusahaan. Budaya itu mirip seperti “kepribadian” pada manusia. Sepertinya ada pola-pola tertentu pada organisasi sehingga cara pikir dan cara tindak orang-orangnya kurang lebih sama-sama mencirikan sesuatu.

Cameron dan Quinn adalah sedikit dari banyak ahli yang mencoba mendiferensiasikan berbagai budaya organisasi. Dalam hal ini, Cameron dan Quinn memandang budaya organisasi sebagai bentukan dari 4 kekuatan yang berbeda. Budaya Clan, budaya Adhocracy, budaya Hierarchy, dan budaya Market.

Seperti namanya, organisasi dengan budaya Clan adalah tempat kerja yang atmosfirnya sangat bersahabat seperti layaknya sebuah keluarga besar. Pimpinan-pimpinan dianggap seperti pembimbing, bahkan mungkin sudah seperti seperti figur bapak. Perekat dalam organisasi ini adalah adanya loyalitas bersama serta adanya tradisi yang bertahan. Organisasi memberi perhatian besar pada pengembangan orang-orangnya serta sangat mementingkan kohesivitas dan semangat kerja. Keberhasilan menurut mereka adalah apabila organisasi bisa menunjukkan kepekaan pada customer dan kalau karyawan merasa senang menjadi anggota di sana. Di organisasi seperti ini kerjasama, partisipasi, dan usaha untuk mempertemukan pendapat adalah tema umum yang dianggap penting.

Lalu, seperti apa organisasi dengan budaya Adhocracy? Organisasi ini sangat dinamis, berjiwa entrepreneur, dan kreatif. Orang-orangnya berani mengambil risiko untuk mencoba sesuatu yang baru. Jika di dunia Clan pimpinan itu seperti bapak, maka di sini pimpinan adalah figur pengambil risiko dan inovator. Dalam organisasi dengan budaya Adhocracy, yang menjadi perekat dalam organisasi adalah karena orang-orangnya sama-sama punya komitmen untuk bereskperimen dan berinovasi. Impian organisasi adalah menjadi yang terdepan dalam inovasi. Organisasi ingin terus tumbuh dan mampu mendapatkan sumberdaya sumberdaya baru. Sukses bagi mereka adalah apabila berhasil melempar produk baru dan unik yang membuat mereka direspek atas inovasinya. Di organisasi seperti ini, kebebasan dan inisiatif karyawan sangat dihargai.

Bagaimana dengan organisasi Hierarchy? Dari namanya saja kok sepertinya birokratis sekali ya? Birokratis di sini lebih dalam artian sangat formal dan serba tertata. Orang-orangnya bekerja mengikuti prosedur. Pemimpin yang dianggap baik adalah mereka yang mampu menjadi koordinator dan organisator handal serta mengutamakan efisiensi di segala bidang. Yang sangat penting bagi mereka adalah menjaga agar proses-proses organisasi bergulir dengan lancar. Oleh karena itu, yang menjadi perekat antara karyawan adalah peraturan dan prosedur. Kenapa demikian? Peraturan dan prosedur menjadi alat untuk mencapai stabilitas, efisiensi, dan mulusnya operasi. Sukses itu adalah kalau bisa menghasilkan keluaran yang andal, jadwal-jadwalnya tepat waktu, dan biayanya rendah. Dalam menangani karyawan, yang menjadi perhatian adalah adanya kepastian dan rasa aman dalam bekerja.

Lalu, bagaimana dengan budaya Market? Nah yang ini orientasinya adalah hasil, orang-orangnya sangat kompetitif dan goal-oriented. Jajaran pimpinan biasanya tipe pekerja keras, sangat prestatif. Perekat dalam organisasi seperti ini adalah semangat untuk menang. Mereka sangat peduli pada reputasi organisasi dan keberhasilan mengalahkan kompetitor. Fokus jangka panjangnya ada pada tindakan-tindakan kompetitif dan tercapainya target-target yang terukur. Sukses organisasi mereka ukur dari besarnya pangsa pasar dan keberhasilan melakukan penetrasi pasar.

Nah, bagaimana dengan organisasi Anda? Jika dilakukan pengukuran (Cameron dan Quinn juga membuat alat ukurnya), maka akan muncul sebuah profil dalam 4 dimensi budaya tersebut. Profil itu menunjukkan seberapa kuat karakter budaya Clan ada di organisasi Anda, seberapa karakter Adhocracy-nya, Hierarchy-nya, dan seberapa karakter Market-nya. Kalau dipetakan, biasanya ada yang lebih menonjol, nah itulah ciri dominan organisasi Anda.

Apa gunanya mengetahui semua ini? Anda akan bisa menentukan strategi kualitas (quality strategy) yang sesuai, bisa mengetahui peran unit SDM yang cocok untuk organisasi, bisa juga untuk mengetahui pendekatan kepemimpinan seperti apa yang paling pas. Dalam hal ini tidak ada satu budaya yang lebih baik dari yang lain. Tapi yang paling penting adalah mengenali apakah budaya yang ada sudah cocok dengan tuntutan usaha. Misalnya, kalau Anda bergerak di industri perangkat elektronik yang kompetisinya pada inovasi, maka akan sulit kalau budaya organisasi Anda Hierarchy. Kalau bergerak di manufaktur, mungkin bisa kacau kalau kekuatannya pada Clan. Kemudian, bisa juga antar unit kerja yang satu dengan yang lain diperlukan budaya yang berbeda.

Intinya pemahaman tentang “karakter” organisasi membuat Anda lebih bisa menghayati dampaknya pada kehidupan organisasi dan bisa mengambil tindakan perubahan apabila diperlukan.

 

Disadur dari

Diagnosing and Changing Organizational Culture: Based on the Competing Values Framework