To learn to read is to light a fire; every syllable that is spelled out is a spark - Victor Hugo

 

Komitmen kuat untuk memberi layanan terbaik dan terus meningkatkan kualitas.

 

Psychology @ Work

PrintEmail
Indria Astuti

Bekerja. Ini fenomena paling menarik dari kehidupan manusia. Dikerjakan lima hari seminggu, delapan jam sehari. Tapi anehnya, seringkali kegembiraan hanya muncul sekali sebulan: saat gajian! Yang jadi bawahan, yang jadi pimpinan, sama banyak keluhannya. Ujung-ujungnya, unit SDM-lah yang seringkali menjadi tumpuan harapan dari pihak organisasi maupun pihak karyawan untuk dapat menciptakan perimbangan antara produktivitas dan kehidupan kerja yang memuaskan. Kelihatannya sederhana, tapi ... memangnya gampang?!

Syukurlah ada sebuah ilmu terapan yang bisa memberi banyak bantuan. Dikenal sebagai Psikologi Industri dan Organisasi, atau yang di luar negeri disebut Industrial and Organizational Psychology disingkat sebagai I/O Psychology. Kadang-kadang terdapat istilah dan definisi yang sedikit berbeda, namun pada intinya ilmu terapan ini berisi pemahaman tentang aplikasi teori, kajian, metode, dan intervensi-intervensi psikologi pada hal-hal yang terkait dengan kehidupan bekerja. Tujuannya adalah menjadikan organisasi lebih produktif tapi dengan tetap mengoptimalkan kesejahteraan fisik dan psikologis kehidupan karyawannya. Dengan begitu psikologi bisa digunakan secara luas di organisasi, di seluruh bidang manajemen SDM. Sepanjang kita bicara tentang manusia, maka jangan dilupakan bahwa kita bisa memanfaatkan psikologi untuk meringankan tugas kita mengelola karyawan. Berikut ini sebagian di antaranya.

Psikologi dan Pengadaan Karyawan

Bagi masyarakat luas, aplikasi psikologi yang paling populer di dunia kerja adalah dalam seleksi karyawan. Kenyataannya, kontribusi psikologi dalam area ini jauh lebih luas. Dalam pengadaan karyawan, tujuan psikologi adalah membantu organisasi memperoleh karyawan yang kompeten dan dapat beradaptasi dengan tuntutan pekerjaannya. Mulai dari proses perencanaan SDM, psikologi bisa dimanfaatkan untuk melakukan profiling karyawan dan menarik kesimpulan-kesimpulan yang diperlukan sebagai pertimbangan dalam menentukan keputusan-keputusan tentang kekuatan SDM. Kemudian, ketika organisasi membutuhkan karyawan baru, psikologi sangat besar perannya dalam proses seleksi untuk membantu mengenali kapasitas intelektual, cara kerja, dan kecenderungan perilaku kerja si calon. Psikologi bisa memahami pekerjaan dan personel seperti apa yang tepat untuk mengisinya sehingga sangat kontributif untuk melakukan job-person matching. Psikologi juga memahami proses adaptasi pada manusia sehingga organisasi bisa memanfaatkannya untuk merancang proses orientasi yang efektif.

Psikologi dan Pengembangan Karyawan

Organisasi tentu ingin karyawannya memiliki pengetahuan dan keterampilan terkini agar bisa membuatnya kompetitif dan tidak ketinggalan jaman. Di sinilah peran pelatihan dan pengembangan karyawan, serta pengelolaan karier. Nah, apa saja yang bisa dikontribusikan psikologi? Yang pertama adalah membantu menelusuri kebutuhan, merancang proses pelatihan, melaksanakan pelatihan dengan baik, serta melakukan pengukuran hasil belajar. Psikologi sangat memahami bagaimana terjadinya proses belajar pada manusia dewasa sehingga bisa membantu menciptakan proses belajar yang menyenangkan sekaligus efektif. Dan akan sangat baik apabila para instruktur di organisasi memiliki bekal tentang psikologi belajar serta dibekali dengan keterampilan-keterampilan psikologis menjadi seorang fasilitator belajar yang efektif. Kedua, banyak topik-topik psikologi yang bisa dijadikan subjek pengembangan itu sendiri. Misalnya pelatihan-pelatihan untuk peningkatan motivasi berprestasi, pelatihan untuk mengembangkan kepemimpinan, untuk membangun komunikasi yang efektif, dan masih banyak lagi.

Pengembangan karyawan juga menyangkut pengelolaan karier yang dilakukan organisasi. Yang baik tentunya adalah apabila bisa diciptakan proses karier yang memuaskan bagi kedua belah pihak, organisasi maupun karyawan. Manajemen karier akan membantu organisasi memastikan tersedianya orang yang tepat ketika dibutuhkan. Artinya, melalui pengelolaan karier yang baik akan tersedia calon yang tepat untuk menggantikan mereka yang pensiun, ada calon yang ahli untuk menghadapi tuntutan inovasi, dan sebagainya. Manajemen karier yang baik juga memiliki dampak motivasional bagi karyawan. Karyawan tidak merasa jalan di tempat dan ada sesuatu yang mendorong mereka untuk maju. Psikologi bisa digunakan untuk memahami potensi dan aspirasi karyawan serta menyelaraskannya dengan kebutuhan perusahaan. Misalnya, memberi masukan bagi penataan jalur karier manajerial maupun fungsional, atau menyediakan konseling karier karyawan sebagai wadah kerjasama organisasi dan karyawan dalam menelusuri potensi dan memfokuskan aspirasi.

Psikologi dan Pengelolaan Kinerja

Bagaimana mendorong karyawan untuk menampilkan performa prima? Psikologi bisa membantu menemukan pendekatan manajemen kinerja yang sesuai dengan karakteristik organisasi dan mengoperasionalisasikannya ke dalam berbagai perangkat dan mekanisme yang memberi dampak paling efektif bagi pembentukan perilaku kerja karyawan, termasuk memberikan pelatihan bagi pimpinan dan karyawan terkait kinerja. Selanjutnya, di dalam sistem imbalan, psikologi bermanfaat untuk mencermati dampak motivasional dari unsur-unsur imbalan. Apa saja komponen imbalan yang sebaiknya diberikan? Kapan diberikan? Bagaimana proporsi relatifnya?

Psikologi dan Budaya Organsiasi

Konteks dimana organisasi berada memunculkan tuntutan tersendiri. Untuk bisa kompetitif di bidangnya, ada organisasi yang dituntut sangat inovatif, ada organisasi yang dituntut mengutamakan kecepatan, ada yang harus memprioritaskan akurasi, dan ada juga yang mesti menomorsatukan keramahtamahan. Hal-hal seperti itu tentu mestinya ikut menjadi warna kehidupan kerja karyawan, menjadi pola pikir dan pola tindaknya. Atau dengan perkataan lain, menjadi budaya organisasi. Psikologi yang memiliki pemahaman menyeluruh tentang manusia bisa membantu organisasi menerjemahkan budaya organisasi yang diinginkan menjadi jabaran perilaku kerja karyawan yang bisa dimengerti dengan mudah, serta membantu proses internalisasi nilai budaya organisasi pada karyawan.

Nah, jadi psikologi tidak semata-mata identik dengan psikotes saja. Bersahabatlah dengan psikologi dan ambilah manfaatnya!